Harga Kubah Masjid Baiturrahman Banyuwangi

Masjid Agung Baiturrahman merupakan sebuah masjid megah yang terletak di Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Masjid baiturrahman ini merupakan sebuah masjid dengan struktur kubah masjid yang sangat ikonis sekali,yang mana hingga saat ini menjadi pusat kegiatan Agama Islam terutama di Kota Banyuwangi.

Latar belakang berdiri dan berkembangnya Masjid Agung Baiturrahman dimulai sejak 7 Desember tahun 1773, hal ini didasarkan pada teks yang tertulis di surat wakaf dari keluarga besar Mas Alit atau nama lengkapnya adalah Raden Tumenggung Wiraguna yang ke 1, yang mana kala itu belaau menjabat sebagai Bupati pertama Banyuwangi untuk umat Islam Banyuwangi.

Harga Kubah Masjid Baiturrahman Banyuwangi

Arsip tertua yang dapat ditemukan mengenai wakaf ini adalah surat salinan yang merupakan pernyataan wakaf tertanggal 17 November 1957. Di mana dalam surat tersebut setidaknya terdapat tanda tangan berjumlah 7 orang ahli waris, yaitu R. Wirokusumo (tinggal di Kepatihan Djalan 2/121 a), R. Danukusumo (Pensiunan Asisten Wedana, tinggal di Panderejo), R.

Wiriodiputro (Pensiunan Asisten Wedana, tinggal di Singonegaran), R. Tirtodirejo (Pensiunan Asisten Wedana, tinggal di Singonegaran), R. Witoro (Bagian Keuangan Kantor Urusan Agama Kabupaten Banyuwangi), R. Hardjo Seputro (Yakni seorang Pensiunan Pegawai Provinsi, yang tinggal di daerah Temenggungan) dan R. Sugoto (petani, tinggal di Temenggungan).

Surat ini menyatakan bahwa mereka (para ahli waris) yang masih keturunan dari RT. Wiraguna I alias Mas Alit (bupati Banyuwangi pertama) mewakafkan tanah Masjid Jami’ seluas 0,1580 Ha dan tanah kuburan seluas 0,10545 Ha di barat tanah masjid

Masjid Agung Baiturrahman berdiri di atas tanah yang mempunyai luas sekitar + 5.245 m2 dan luas bangunan mencapai + 7.245 m2, masjid ini setidaknya berkapasitas + 5.110 orang. Lokasi Masjid Agung Baiturrahman ini juga cukup strategis dan sangat mudah untuk dijangkau, karena berada di jantung kota Banyuwangi yaitu terletak di depan Taman Sritanjung

Sejarah berdirinya Masjid Agung Baiturrahman ini juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Banyuwangi, karena keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat. Sama-sama didirikan oleh Bupati Blambangan terakhir, yang mana belaiu ini sekaligus Bupati Banyuwangi pertama yaitu Bupati Raden Tumenggung Wiroguno I (Mas Alit) yang memerintah selama kurun waktu 9 tahun lamanya pada tahun 1773-1782.

Pada zaman pemerintahan Mas Alit, perkembangan agama Islam tidak dapat dibendung lagi dan terjadi begitu pesat, apalagi waktu itu Mas Alit sendiri sebagai Bupati Blambangan terakhir atau Banyuwangi pertama yang berkedudukan di Benculuk sudah memeluk agama Islam.

Berdirinya Masjid Agung Baiturrahman yang ada di Kabupaten Banyuwangi dengan hak kewenangan pengembangannya mengacu pada kewenangan atas dasar kepindahan kota kabupaten dari Benculuk ke pusat Kota Banyuwangi, maka dapat disimpulkan bahwa Masjid Agung Baiturrahman di kota Banyuwangi ini merupakan salah satu bangunan masjid yang bersifat monumental dalam hubungannya dengan penyebaran agama Islam di bumi Blambangan.

Harga Kubah Masjid Baiturrahman Banyuwangi

Masjid Agung Baiturrahman ini tergolong bangunan masjid tertua di Kabupaten Banyuwangi. Sejak pertama didirikan, masjid kebanggaan masyarakat Kota Banyuwangi ini telah mengalami beberapa kali renovasi.

Renovasi Pertama (1844-1971)

Semula masjid tertua dan monumental ini sebelumnya bernama Masjid Jami’ Banyuwangi, yang mana kala itu sangat banyak sekali warga Banyuwangi yang antusias berbondong-bondong untuk menuju ke sebuah tempat shalat yang sangat sederhana yang mana hanya dibatasi oleh kayu seadanya saja, lalu kemudian pada tahun 1844 oleh Bupati Raden Adipati Wiryodanu Adiningrat mulai dibangun perlahan-lahan dengan di bangunnya sebuah gedung permanen, sebagai pelaksana pembangunan adalah Patih Raden Pringgokusumo Hadiningrat yang juga kala itu dibantu oleh Hakim Bagus Achmad bin Ngabsi pada tanggal 18 Sya’ban 1260 Hijriyah.

Pembenahan ini masih sebatas perombakan bagian fisik pada bangunan utama masjid sja,dan dilakukan sedikit demi sedikit,lalu kemudian dilakukan juga oleh Raden Pringgokusumo Hadiningrat yang kurun waktu 14 tahun (1867-1881) menggantikan saudaranya menjadi Bupati Banyuwangi yang ke-5

Selama masa Pemugaran terjadi terdapat beberapa penambahan dari mulai ruangan utama hingga serambi masjid,pemugaran demi pemugaran pada masjid bersejarah dan monumental ini, tentunya, telah membawa perubahan yang sangat signifikan, khususnya bagi jama’ah Masjid Agung Baiturrahman, dan juga masyarakat Kota Banyuwangi yang semakin hari semakin kerasan berlama-lama di dalam masjid sekaligus lebih khusyuk beribadah.

Renovasi Keempat (2005-kini)

Berdasarkan terhadap pemikiran bahwa atap joglo yang ada pada masjid ini ternyata memiliki beberapa kelemahan yang cukup penting, yaitu seperti rangka penyangga yang di buat dengan sangat rumit sehingga bermanfaat agar tidak rawan ambruk dan keadaan di dalam joglo yang kotor dan terkesan tidak teratur maka Yayasan Masjid Agung Baiturrahman ingin sekali lagi untuk mencoba membangun kembali Masjid Agung Baiturahman. Peletakan batu pertama pada tanggak 9 September 2005. Dalam tahap ini telah dibangun sebuah gedung baru yang di fungsikan sebagai Aula Baiturrahman yang cukup megah dan elegan, yang mana gedung itu berfungsi sebagai ruang shalat di waktu-waktu tertentu, pendidikan keagamaan, kegiatan administrasi takmir, dan lain-lain.

Perpaduan antara kebudayaan Islam dan juga kebudayaan khas Kota Banyuwangi juga sempat mendominasi arsitektur pada bangunan Masjid Agung Baiturrahman ini, hal ini di karenakan bangunan masjid ini adalah simbol kemegahan dan juga keberhasilan pembangunan yang begitu pesat yang terjadi di wilayah Kabupaten/Kota Banyuwangi. Ornamen masjid baiturrahman ini sangat kental dengan nuansa daerah khas Banyuwangi.

Diantaranya terdapat sebuah motif yang menghiasi mimbar masjid yang mana secara keseluruhan bernuansa asli Banyuwangi dengan motif ukiran Gajah Oling.

Masjid Agung Baiturrahman ini merupakan jenis masjid yang memiliki arsitektur yang mungkin tidak dimiliki oleh masjid lainnya. Masjid di Kabupaten ini luasnya memanjang hingga menjorok ke samping kanan dan juga bagian sisi kiri,dan bahkan sangat panjang yang mana kedua-duanya mempunyai bilah yang sama atau kembar, kondisi ruangan yang memanjang ke samping kanan-kiri ini bertujuan untuk memaksimalkan ruangan masjid agar lebih luas dan tentunya megah.

Secara keseluruhan Masjid Agung Baiturrahman memiliki 11 kubah (1 kubah utama, 2 kubah sayap (utara dan selatan), 2 kubah berjalan (serambi utara dan serambi selatan), dan 6 kubah kecil. Kubah utama Masjid Agung Baiturrahman memiliki diameter lingkar dengan ukuran mencapai 13,5 m. Posisinya terletak di tengah dan menyanggah ruang utama. Kubah berjalan atau kubah geser Masjid Agung Baiturrahman posisinya ada di bagian utara dan bagian selatan atau tepatnya di atas serambi utara lantai 2 dan serambi selatan lantai 2.

Suksesnya pembangunan Masjid Agung Baiturrahman ini juga tidak serta merta merupakan kesuksesan pembangunan Kota Banyuwangi. Karena Masjid Agung Baiturrahman adalah ikon yang terkenal yang berada di Kabupaten Banyuwangi, milik umat Islam se-Kabupaten Banyuwangi, dan juga mempercantik wajah Kabupaten Banyuwangi .

Masjid Agung Baiturrahman mempunyai nilai filosofis yang cukup kental yakni menjadikan sebuah simbol hati dan juga kekuatan umat Islam di seluruh pelosok Nusantara. Maka,siapa saja yang datang ke Banyuwangi, maka yang menjadi pusat perhatian pertama adalah masjid Baiturrahman ini.

One Reply to “Harga Kubah Masjid Baiturrahman Banyuwangi”

Leave a Reply

Your email address will not be published.